Nasehat Alumni oleh Kyai Ubaidillah Ahror

Nasehat Kyai Bed 24 jam

Pastikan diri kita, anak kita, istri kita, selalu berada dalam Al Firqotun Naajiyah. Kata Sayyidina Ali, orang itu walaupun cuma satu orang tapi dia ikut Nabi melalui para sahabat maka dia adalah Ahlussunah wal Jamaah. Sebaliknya walaupun banyak orang tapi tidak ikut Nabi dan sahabat atau ikut Nabi tanpa mengikuti sahabat maka dia itu bukanlah Ahlussunah wal Jamaah. Maka pastikan diri kita dan keluarga kita berada pada posisi ini.

Orang itu kalo aqidahnya lurus, walaupun dia masih malas beramal maka masuk surganya itu jelas. Tapi kalo aqidahnya nggak lurus, walaupun amalnya semangat, maka masuk surganya nggak jelas.

Semua fadhilah (keutamaan) amal itu nggak bisa diamalkan tanpa ilmu masail. Maka untuk mengamalkan hadist-hadist fadhilah itupun mesti dengan ilmu fiqih yang benar. Maka walaupun kita dakwah dan beradab kepada para masyaikh, tetapi kita harus tetap memikirkan qobuliyatnya amal-amal yang kita kerjakan.

Urusan perjuangan itu, antara ketaatan dan tanggung jawab itu harus berbarengan. Antara taat kepada pimpinan dan tanggung jawab dengan perbuatan itu harus sama-sama difikirkan. Perjuangan Ahlussunah wal Jamaah dan fiqih Ahlussunnah wal Jamaah itu harus kita bawa kemana-mana dan di mana kita berada.

Para masyaaikh pun dalam perjuangan safar-safar dakwah mereka selalu menjaga amal-amal dengan fiqih mereka. Mereka marah ketika dakwah tidak disertai dengan ilmu fiqih yang benar. Enam sifat itu tuntunan global dalam mengamalkan agama. Adapun praktek kesempurnaannya mesti melalui ahli ilmu. Tanpa ilmu, 6 sifat yang menjadi tuntunan pun tidak bisa menjadikan seseorang menjadi baik, karena semangat tanpa ilmu hasilnya adalah ngawur.

Maka alumni-alumni pesantren punya tanggung jawab untuk meluruskan perkara ini. Karena hari ini banyak penanggung jawab dakwah atau orang dakwah yang kenal dakwah bukan dari ahli ilmu, atau bukan ahli pesantren, maka alumni jangan nggak peduli dengan keadaan orang dan keselamatan orang yang penting dia dapat manfaat dari orang tersebut.

Kehendak masyaikh adalah jangan kita menjadi bagian yang menambah perpecahan di tengah tengah umat tetapi menjadi pemersatu dan pengayem di tengah perpecahan ummat. Jangan memisahkan diri dari kehidupan ummat. Datangi semua umat ajak umat mengamalkan agama tanpa mengharuskan mereka semua jadi pengikut kita.

Jangan kita merasa bahwa setelah kita kenal tabligh maka kita sudah positif menjadi ahli surga. Karena dalam sejarah tabligh mulai zaman Syaikh Ilyas sampai sekarang nggak pernah ada cerita Allah atau malaikatnya datang memberikan kunci surga kepada orang tabligh.Maka jadikan diri kita bagian dari umat. Jangan merasa diri bukan bagian dari umat sehingga hanya bergaul dan berkumpul dengan komunitasnya saja.

Maka kehendak masyaikh: JADIKAN DIRI KITA BAGIAN DARI UMMAT.

Setiap perkara yang sudah terjadi itu tidak semua bagus untuk diceritakan. Seperti hubungan suami istri walaupun halal…, maka begitu pula dalam perjuangan. Jangan suka bicara keburukan orang, tapi ajak orang kepada kebaikan.

Dalam perjuangan selalu menitik beratkan kepada Ahlussunah wal Jamaah. Enam sifat sahabat menunjukkan bahwa jamaah tabligh itu Ahlussunah wal Jamaah. Maka semua santri Syaikh Ilyas itu adalah Ahlussunah wal Jamaah. Yang harus kita akui dan kita hormati serta kita rangkul di manapun berada. Kalau kita merasa bahwa semua umat Islam itu adalah saudara kita dan bagian dari kita maka akan terjalin hubungan kemesraan dengan semua umat di seluruh dunia.

Asas dalam dakwah itu mahabbah, kesadaran, dan semangat yang ditimbulkan dari iman. Semangat dari dalam, bukan arogansi, paksaan dan doktrin dari orang. Ketika kita ke India maka yang ditampakkan oleh mereka kepada kita hanyalah ikrom dan ikrom, bukan targhib dan targhib.

Dalam dakwah kita harus dakwah secara internasional. Dalam ta’lim kita pun ta’lim secara internasional. Dalam dzikir pun begitu. Dalam khidmad pun begitu.

Internasional dakwah bergaul dengan semua ahli dakwah walupun beda harokah. Internasional ta’lim bergaul dengan semua ahli ilmu walaupun beda guru. Internasional dalam dzikir itu di antaranya jangan merasa yang kenal Allah itu hanya kita saja. Maka kita pun perlu ikut dzikir dengan ahli-ahli dzikir lain walaupun beda toriqotnya. Internasional khidmad itu bagaimana nafaqoh kita untuk kita dan keluarga kita betul-betul bersumber dari penghasilan yang halal dan baik. Penghasilan yang dihasilkan dari hasil yang menjadikan kita beramal itu jauh lebih baik daripada penghasilan yang dihasilkan dengan cara kita harus meninggalkan amal.

MasyaAllah para alumni yang hadir di Musyawarah Temboro masyaAllah para ulama semua.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *