Kamu kalo ingin menghidupkan agama contohnya seperti di Temboro ini, Mas. Da’wah yang sungguh-sungguh, ngaji sungguh-sungguh, wiridan sungguh-sungguh, dan yang rukun. Nanti agama itu hidup. Ya!
Azasnya itu da’wah, tapi ini yang paling berat, ini babat kok, babat hutan da’wah itu. Tapi kalo nanti sudah dibabati, baru bisa dibangun kampung, jalan… dibabati dulu kan ya… lha membabati ini berat. Dan kalau sudah jadi kampung seperti Temboro ini, jasa-jasa orang yang babat hutan dulu, Temboro ini dulu hutan, jasa orang-orang yang membabati hutan itu sudah tidak dikenang lagi… ya kan!
Begitu juga orang da’wah itu kadang tidak ada yang menghormati, malah membikin sumpek saja… tasykil… aja. Padahal ini yang membabat ini, kalo tidak ada yang membabat tidak akan ada kampung ini.
Begitu juga agama ini, kita kalau lihat pesantren, semua orang ngaji, hafidz Al-Qur’an, amal sunnah, agama makmur, senang kan..?! Senang!
Padahal dari mana ini sumbernya… Dari da’wah dulu, kalau tidak ada da’wah tidak akan ada ini semuanya.
Maka da’wah itu harus dihidupkan senantiasa, nanti kalau sudah da’wah, sudah senang agama, tidak ada yang ngaji ya masalah lagi. Sudah senang ngaji tidak ada yang dikaji, ya menguap. Ya!
Da’wah terus, ngaji terus, wiridan kalau malam. Lama-lama agama hidup.
~KYAI UZAIRON (RAH) dalam NGAJI SUNNAH WA BID’AH~

